RN NEWS (Kota Cirebon) - Sejarah Kota Cirebon tidak hanya tersimpan dalam cerita masa lalu, tetapi juga melekat pada bangunan, jalur perdagangan, hingga aktivitas masyarakat yang berkembang dari generasi ke generasi. Kekayaan sejarah tersebut menjadi bagian penting dari identitas daerah yang perlu terus dikenalkan, khususnya kepada generasi muda.
Semangat inilah yang diangkat dalam Festival Literasi dan Historia Bea Cukai Tahun 2026 yang diselenggarakan Kantor Bea Cukai Cirebon, Kamis (15/10/2026). Melalui kegiatan ini, peserta diajak menelusuri jejak sejarah kepabeanan dan perdagangan yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan panjang Kota Cirebon.
Kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan pemaparan sejarah, tetapi juga memberikan pengalaman belajar secara langsung melalui kunjungan ke sejumlah lokasi bersejarah. Pendekatan ini menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan literasi, sejarah, dan pengalaman nyata di lapangan.
Kepala Kantor Bea Cukai Cirebon, Koen Rachmanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mengembangkan program literasi yang lebih luas, termasuk melalui penggalian sumber-sumber sejarah dan kolaborasi bersama berbagai instansi di Kota Cirebon.
“Kami berharap kegiatan ini dapat dikembangkan melalui penggalian sumber-sumber literasi, baik dari Bea Cukai sendiri maupun bekerja sama dengan instansi lain di Cirebon. Banyak bangunan yang ternyata memiliki sejarah panjang dalam konteks kecirebonan,” ujar Koen.
Karena itu, pihaknya turut melibatkan berbagai instansi dan lembaga yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Kota Cirebon, termasuk perbankan BUMN, Kantor Pos, dan Sekolah Santa Maria. Melalui kolaborasi tersebut, Koen berharap berbagai jejak sejarah yang selama ini tersimpan di masing-masing lembaga dapat digali dan diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih luas.
Koen juga mengungkapkan bahwa berdasarkan materi sejarah yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, praktik kepabeanan di wilayah Cirebon telah dikenal jauh sebelum kedatangan VOC. Hal ini menunjukkan bahwa Cirebon memiliki perjalanan panjang sebagai wilayah yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan dan pengaturan keluar masuk barang.
“Cirebon memiliki sejarah kepabeanan yang sangat panjang, bahkan jauh sebelum VOC datang. Karena itulah kami mengangkat tema kepabeanan, selain sejarah kecirebonan itu sendiri,” jelasnya.
Lebih lanjut, Koen menegaskan bahwa Festival Literasi dan Historia Bea Cukai juga menjadi upaya untuk meningkatkan kesadaran literasi, baik di lingkungan internal Bea Cukai maupun masyarakat luas.
Menurutnya, kemampuan menggali informasi hingga ke sumbernya menjadi hal penting, terutama bagi generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi.
“Kami ingin meningkatkan kegiatan literasi, terutama di internal Bea Cukai. Kami juga mengajak masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa, agar kesadaran literasi semakin tumbuh dan mereka terbiasa menggali informasi sampai ke sumbernya,” tuturnya.
Peneliti Sejarah, Endang Kusumasari, juga menjelaskan bahwa posisi Cirebon dalam sejarah perdagangan memiliki peran yang sangat penting. Aktivitas perdagangan bahkan telah berlangsung jauh sebelum kedatangan VOC. Berdasarkan catatan sejarah, pada sekitar tahun 1373 pelabuhan di Cirebon telah berkembang dan ramai, yang menunjukkan bahwa kegiatan perdagangan sudah berjalan sejak masa sebelumnya.
Menurut Endang, Cirebon memiliki sejumlah komoditas bernilai tinggi yang kemudian menarik perhatian bangsa Eropa, termasuk Portugis, Belanda, dan Inggris. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa Cirebon sejak dahulu telah menjadi salah satu titik penting dalam jaringan perdagangan.
“Cirebon memiliki sejarah perdagangan yang sangat panjang. Jauh sebelum pengaruh Eropa dan VOC datang, kita sebenarnya sudah memiliki sistem kepabeanan sendiri,” ujar Endang.
Jejak awal sistem kepabeanan tersebut, kata Endang, dapat ditelusuri dari kawasan Pelabuhan Muara Jati. Di wilayah Celancang hingga kini dikenal kawasan Pabean Kulon dan Pabean Wetan. Keberadaan nama tersebut menjadi salah satu penanda aktivitas kepabeanan yang telah berkembang pada masa lampau.
Ia juga menyebut sosok Ki Gedeng Tapa yang pada masa itu menjalankan peran sebagai syahbandar sekaligus mengatur aktivitas yang berkaitan dengan perdagangan dan kepabeanan di pelabuhan.
Menurutnya, sejarah tersebut penting dikenalkan kepada generasi muda agar pemahaman tentang kepabeanan di Cirebon tidak hanya dimulai dari masa kolonial.
“Generasi muda perlu mengetahui bahwa sejarah kita bukan sekadar bagian dari sejarah VOC. Cirebon memiliki sejarahnya sendiri, bahkan sistem perdagangan dan kepabeanannya sudah tumbuh jauh sebelumnya,” katanya.
Endang turut menyinggung akar istilah bea yang menurutnya telah ditemukan dalam sumber-sumber lama. Istilah tersebut berkaitan dengan kata veaya yang bermakna biaya atau ongkos dan menjadi salah satu bukti panjangnya perjalanan konsep pungutan dalam aktivitas perdagangan di Nusantara.
Selain perdagangan dan kepabeanan, perkembangan Cirebon sebagai kota perdagangan juga didukung kemajuan teknologi komunikasi pada masa berikutnya. Salah satunya melalui keberadaan telegraf yang berkembang seiring jaringan komunikasi dari Batavia.
Pada awalnya, telegraf banyak digunakan untuk kepentingan komunikasi militer. Namun, dalam perkembangannya, jaringan tersebut turut menunjang arus logistik dan perputaran komoditas. Keberadaannya menjadi penting bagi aktivitas perdagangan, termasuk menghubungkan kawasan produksi, British American Tobacco (BAT), dan pelabuhan.
“Telegraf kemudian tidak hanya berfungsi untuk komunikasi militer, tetapi juga mendukung jalur logistik dan perdagangan. Ketika produksi siap dikirim, komunikasi dengan pelabuhan dapat dilakukan melalui jaringan tersebut,” jelas Endang.
Ia berharap penggalian sejarah seperti ini terus dikembangkan agar generasi muda mengenal Cirebon bukan hanya dari bangunan atau peninggalannya, tetapi juga memahami besarnya peran kota ini dalam sejarah perdagangan, kepabeanan, dan komunikasi di Nusantara.
Belajar Sejarah Langsung dari Jejaknya
Salah satu hal menarik dari kegiatan ini adalah kesempatan bagi para peserta untuk mengenal sejarah melalui kunjungan langsung ke sejumlah bangunan dan peninggalan bersejarah di Kota Cirebon.
Rangkaian kegiatan mencakup penelusuran Kantor Bea Cukai lama, pengenalan koleksi bersejarah seperti koin perak dan emas, hingga kunjungan ke kawasan Gedung British American Tobacco (BAT) yang menjadi salah satu bagian dari perjalanan sejarah Kota Cirebon.
Seorang guru SMK Pelayaran Buana Bahari Cirebon Uni Sunarti, yang turut mengikuti kegiatan tersebut mengapresiasi pendekatan pembelajaran sejarah yang diberikan. Menurutnya, kegiatan ini menghadirkan pengalaman berbeda karena peserta dapat menyaksikan langsung berbagai peninggalan sejarah yang sebelumnya mungkin hanya dikenal melalui buku atau cerita.
Ia juga menyoroti keberadaan pedati sebagai salah satu alat transportasi yang memiliki peran dalam perjalanan sejarah pembangunan Cirebon.
Menurutnya, kolaborasi antara dunia pendidikan dan pemerhati sejarah perlu terus dikembangkan agar kekayaan sejarah lokal dapat menjadi bagian yang lebih kuat dalam pembelajaran.
“Kolaborasi pendidikan dan sejarah seperti ini sangat penting. Harapannya, sejarah kecirebonan bisa semakin dikembangkan dalam dunia pendidikan, bahkan menjadi bidang pembelajaran khusus di tingkat SMA, SMK, maupun perguruan tinggi,” ungkapnya.
Pengalaman serupa dirasakan oleh siswa SMAN 1 Kota Cirebon Syarifudin Azis, yang mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru setelah mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.
Baginya, kesempatan mengunjungi langsung lokasi bersejarah memberikan pemahaman yang lebih nyata dibandingkan kegiatan sosialisasi yang hanya menampilkan foto atau penjelasan di dalam ruangan.
“Yang paling menarik, kami bisa berkeliling dan melihat langsung tempat-tempat bersejarahnya. Biasanya kalau sosialisasi hanya ditunjukkan melalui foto. Dari kegiatan ini saya juga jadi lebih tahu bahwa Cirebon ternyata pernah memiliki mata uang sendiri,” katanya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran sejarah dapat menjadi lebih menarik ketika peserta diberikan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan objek dan lingkungan yang menyimpan nilai sejarah.
Bagi Pemerintah Kota Cirebon, kegiatan literasi sejarah yang melibatkan berbagai lembaga pendidikan dan instansi menjadi bagian penting dalam memperkuat pemahaman masyarakat terhadap identitas daerah.
Kekayaan sejarah Kota Cirebon tidak hanya memiliki nilai edukasi, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pengembangan wisata sejarah dan budaya yang dapat diperkenalkan secara lebih luas.
Melalui kolaborasi antara instansi pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas sejarah, dan masyarakat, warisan sejarah Kota Cirebon diharapkan semakin dikenal, dipahami, dan dijaga bersama.
Festival Literasi dan Historia Bea Cukai menjadi pengingat bahwa mengenal sejarah bukan sekadar melihat kembali masa lalu, melainkan juga memahami bagaimana perjalanan panjang tersebut membentuk Kota Cirebon hari ini dan menjadi bekal untuk membangun masa depannya.
(Elias)




